Pemerintah Kanada mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 15 Mei 2024, menuntut Norwegia cabut klaim eksklusif atas 12 sumber air glacier Arktik. Konflik memanas setelah perusahaan Norwegia Svalbard Water AS mematenkan teknologi “glacier fingerprinting” untuk klaim kepemilikan air berdasarkan sidik kimia unik es purba. “Norwegia langgar prinsip common heritage lewat klaim sepihak ini,” tegas Menteri Perdagangan Kanada, Mary Ng.

Sengketa Teknologi vs Hak Alam

Svalbard Water AS pasang sensor IoT di gletser Svalbard untuk lacak aliran air bawah tanah, klaim 70% air kemasan Arktik di Eropa berasal dari “zona paten” mereka. Kanada bantah dengan data satelit ESA CryoSat-2 yang tunjukkan 40% air tersebut berasal dari gletser Ellesmere Island milik Kanada. Perusahaan Kanada Arctic Blue Waters kehilangan €200 juta/tahun akibat embargo Norwegia di pasar Skandinavia.

Blokade Diplomasi dan Dampak Ekonomi

Norwegia gunakan Pasal 7 Perjanjian Svalbard 1920 untuk klaim hak komersial eksklusif. Sebaliknya, Kanada terapkan tarif 35% pada impor ikan salmon Norwegia sebagai balasan. Uni Eropa dukung Norwegia dengan alasan sertifikasi lingkungan Nordic Swan Eco-Label yang ketat, sementara kelompok Inuit Progresif mengecam: “Gletser warisan leluhur kami, bukan komoditas korporat!”

Inovasi dan Perlawanan

Arctic Blue Waters kembangkan “synthetic glacier ice” berbasis air laut yang disaring dengan teknologi reverse osmosis, klaim memiliki rasa identik. Sementara aktivis lingkungan rakit “GlacierGuard”—drone penghancur sensor IoT Norwegia di Arktik. “Kami hancurkan 20 sensor minggu lalu,” klaim koordinator aksi, Jens Stoltz.

Titik Nadir dan Masa Depan

WTO jadwalkan sidang pertama pada Oktober 2024. Norwegia ancam batasi akses Kanada ke Bank Benih Global Svalbard jika gugatan terus berlanjut. Analis prediksi kerugian global capai €5 miliar jika perang dagang meluas ke sektor energi hijau.